Teman hidup

Sore ini hujan menyelimuti kota bandung. Saat langkah ini berjalan untuk menunaikan kewajiban, ada sosok yang tidak semestinya disana. Ya seorang bapak yang menunggu di area perempuan. ku kira dia tidak tahu dimana area laki-laki, aku pun memberanikan diri untuk memberitahunya, tapi jawaban dari beliau membuatku malu bukan karena tidak tahu tapi karena menunggu teman hidupnya. jawaban beliau “oh iya, saya sedang menunggu istri saya yang sedang sakit untuk keluar”. maafkan aku. Aku pun termenung begitu bahagianya menjadi istri beliau, saat ia sakit masih ada yg menemani sang teman hidup. Saat mereka bahagia mereka saling berbagi. Walau kutak tahu iya atau tidak tapi pemikiranku bahwa saat ia sakit teman hidup berada bersamanya berarti saat bahagia pun sama. Toh berbaik sangka adalah hal yang baik. Siapakah teman hidupku nanti, saling mengerti dengan sifat masing-masing, saling mendukung bila terjatuh, saling ah saling…

biarlah itu menjadi rahasia saat ini, berdoa yang terbaik, karena Sang Pencipta sudah berjanji dan semua manusia sudah punya garisnya.

Teringat…
Teman sekelas banyak yang sudah memiliki teman hidup yang sah secara agama dan hukum.
Teman dekatku pun akan melangsungkan perjanjian yang sakral.
Semoga kalian saling mengerti, memahami, mendukung, dipahami, dimengerti, didukung, dan apapun itu sebutannya.
turut berhagia dan mendoakan kalian kawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s